AdvertorialBangka

Mahasiswa dan Dosen Polman Babel Jadi Narasumber di TVRI

×

Mahasiswa dan Dosen Polman Babel Jadi Narasumber di TVRI

Sebarkan artikel ini

PANGKALPINANG, OkeyBung.com – Mahasiswa Politeknik Manufaktur Negeri Bangka Belitung (Polman Babel) kembali mencuri perhatian publik melalui keterlibatannya sebagai narasumber dalam program Jendela Inspirasi TVRI Bangka Belitung, Kamis (27/11/2025). Kehadiran ini menjadi bukti semakin aktifnya mahasiswa Polman Babel berbagi gagasan dan wawasan kepada masyarakat.

Mahasiswa yang tampil dalam program tersebut adalah Muhammad Khoirul Arifin, didampingi Dosen Pembimbing, Mahmudin, M.Si. Keduanya mengulas pentingnya meningkatkan partisipasi mahasiswa dalam berbagai kompetisi sebagai salah satu bentuk pengembangan diri.

Saat dihubungi, Mahmudin menjelaskan bahwa kunjungan ke TVRI melalui program Jendela Inspirasi memberikan ruang yang luas bagi perguruan tinggi untuk berbagi praktik baik dalam membangun kompetensi mahasiswa.

Menurutnya, program tersebut menjadi wadah bagi kampus untuk menunjukkan apa yang sudah dilakukan dalam mendukung pengembangan potensi mahasiswa.

Terkait hal itu, Mahmudin menegaskan bahwa kompetisi tidak semata-mata soal menang atau kalah. Ia menyampaikan bahwa kompetisi merupakan sarana penting dalam membentuk karakter mahasiswa.

“Melalui kompetisi, mahasiswa dapat belajar menumbuhkan keberanian, mengasah mental, serta meningkatkan keterampilan yang relevan di dunia kerja,” ujarnya.

“Karena kompetisi tempat mahasiswa melatih diri untuk tampil, berinovasi, dan menguji kemampuan secara langsung di hadapan publik,” tambahnya.

Selain itu, ia turut menyoroti pentingnya penguatan soft skills sebagai bekal utama mahasiswa untuk dapat bersaing. Ia menekankan bahwa keterampilan komunikasi, kerja tim, kreativitas, dan problem-solving perlu terus diasah agar mahasiswa siap memasuki industri.

“Soft skills tidak hanya diperoleh melalui pembelajaran di kelas, tetapi juga melalui pengalaman nyata seperti kompetisi, proyek, maupun kegiatan kolaboratif untuk memberi ruang bagi mahasiswa dalam mengalami proses belajar yang lebih menyeluruh,” katanya.

Mahmudin juga mengingatkan bahwa mahasiswa perlu memahami kegagalan sebagai bagian dari proses belajar. Menurutnya, kegagalan harus dilihat sebagai kesempatan berkembang, bukan tekanan.

“Mahasiswa perlu memahami kegagalan sebab bagian dari proses belajar dan harus dilihat sebagai kesempatan berkembang, bukan tekanan,” tutupnya. (Humas)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *