BangkaBeritaDaerah

Warga 8 Desa Murka, PT GML Tolak Tuntutan: Ancaman Tutup Akses Jalan Menguat

×

Warga 8 Desa Murka, PT GML Tolak Tuntutan: Ancaman Tutup Akses Jalan Menguat

Sebarkan artikel ini
Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat menyampaikan tuntutan kepada manajemen PT Gunung Maras Lestari (GML) saat aksi unjuk rasa di Kabupaten Bangka, Senin (9/2).

BANGKA, OkeyBung.com – Ketegangan antara masyarakat dan PT Gunung Maras Lestari (GML) kembali mencuat. Perusahaan perkebunan kelapa sawit tersebut menuai protes keras dari warga delapan desa di Bangka yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat.

Mereka menilai keberadaan perusahaan belum memberikan manfaat nyata bagi warga sekitar, bahkan memicu keresahan berkepanjangan.

Aksi massa digelar sebagai bentuk penyaluran aspirasi masyarakat yang merasa hak-haknya diabaikan. Namun, upaya dialog yang diharapkan berujung buntu. Manajemen PT GML disebut menolak seluruh poin tuntutan yang disampaikan perwakilan aliansi, sehingga memicu kekecewaan dan amarah massa.

Dalam aksi tersebut, koordinator lapangan membacakan sejumlah tuntutan yang dinilai sebagai hak masyarakat berdasarkan aturan perundang-undangan.

Salah satu tuntutan utama yakni kewajiban perusahaan menyediakan kebun plasma sebesar 20 persen. Massa menilai kewajiban itu belum terealisasi, sehingga masyarakat sekitar hanya menjadi penonton aktivitas perusahaan tanpa merasakan hasilnya.

Selain itu, massa juga menyoroti dugaan adanya praktik gratifikasi atau suap yang melibatkan enam kepala desa. Dugaan tersebut dinilai mencederai kepercayaan publik dan berpotensi memecah persatuan warga.

Mahasiswa yang tergabung dalam aliansi menegaskan sikap mereka sebagai bagian dari masyarakat yang merasa dirugikan. Mereka menyatakan akan terus mengawal persoalan tersebut hingga ada kejelasan dan keadilan bagi warga.

Aliansi juga melayangkan ultimatum kepada PT GML. Jika dalam waktu satu minggu tidak ada itikad baik untuk memenuhi tuntutan, massa mengancam akan menutup total akses jalan menuju perusahaan.

“Kami tidak datang untuk meminta sedekah, kami datang untuk mengambil apa yang menjadi hak kami menurut hukum. Jika moralitas perusahaan sudah hilang karena uang, maka biarkan perlawanan kami yang bicara,” ujar salah satu orator mahasiswa.

Di media sosial, isu dugaan gratifikasi tersebut kian ramai diperbincangkan dan menambah sorotan terhadap manajemen PT GML. Masyarakat kini menunggu langkah perusahaan dalam merespons tuntutan yang disuarakan secara terbuka.

Satu pekan ke depan menjadi penentu, apakah PT GML akan membuka ruang dialog atau justru menghadapi eskalasi aksi lanjutan dari massa. (SMSI BANGKA)

 

banner 970x250 banner 970x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *