PANGKALPINANG, OkeyBung.com – Di bawah temaram lampu aula Hotel Aston Bangka, sebuah gagasan besar mendidih, sehangat suasana buka puasa bersama yang digelar Rabu (11/3/2026). Di sana, Harwendo Adityo Dewanto, Komisaris Utama PT Mitra Stania Prima (MSP), duduk melingkar bersama awak media, mendengarkan detak nadi ekonomi rakyat yang rindu akan kepastian.
Ketua SMSI Bangka sekaligus Pemuda Pelopor IPR Desa Perlang, Ahmad Wahyudi, melontarkan sebuah narasi yang tajam namun penuh harapan. Ia mengibaratkan wilayah pertambangan rakyat (WPR) sebagai “ladang yang menanti sentuhan tangan dingin sang bapak asuh”. Fokusnya jelas, membangun ekonomi berkelanjutan di atas lahan WPR seluas 74 hektare, dengan titik awal 4,9 hektare yang sudah siap kelola.
Wahyudi membawa konsep “Dapur Mini” ke atas meja diskusi. Ini bukan sekadar tempat memasak biasa, melainkan instalasi peleburan pasir timah di tingkat desa yang akan mengubah butiran pasir menjadi balok-balok bernilai tinggi.
“Tangan-tangan rakyat kami itu lihai, Pak. Mereka adalah seniman di balik deru mesin tambang. Namun, tanpa wadah resmi, keahlian mereka seringkali terperosok dalam jurang ilegalitas,” ujar Wahyudi dengan nada retoris.
Gagasan ini bertujuan agar timah tidak lagi “terbang” keluar secara gelap, melainkan diolah langsung di rahim desa penghasilnya. Dengan adanya dapur mini di setiap desa, timah Bangka akan bertransformasi menjadi bahan baku utama bagi industri elektronik dunia secara legal dan bermartabat.
Harapan besar disematkan kepada PT MSP untuk bertindak sebagai “payung pelindung” atau bapak asuh. Peran perusahaan bukan hanya soal modal, melainkan menjadi jembatan yang menghubungkan hasil peluh penambang rakyat dengan pasar industri yang lebih luas.
“Jika setiap desa memiliki dapur mini yang terintegrasi, kita tidak lagi bicara soal pelarian barang, tapi soal kedaulatan ekonomi. Ini adalah cara kita membasuh noda ilegalitas dengan sistem yang transparan dan berkelanjutan,” tambah Wahyudi.
Pertemuan sore itu menjadi sinyal kuat bahwa masa depan pertambangan di Bangka Belitung tidak boleh lagi hanya dinikmati oleh segelintir orang. Hilirisasi harus dimulai dari unit terkecil desa.
Dengan sistem berkelanjutan yang dikelola bersama-sama mulai dari penggalian hingga peleburan masyarakat bukan lagi penonton di tanah sendiri, melainkan aktor utama yang memastikan dapur mereka terus mengepul, sejalan dengan visi ekonomi hijau yang dicita-citakan. (*)












