PANGKALPINANG, OkeyBung.com – Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf)/Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) RI bersama TikTok Shop by Tokopedia menggelar pelatihan digital bertajuk Waktunya Start Jadi Genmatic (Generasi Melek Teknologi) di Swiss-Belhotel Pangkalpinang, Selasa (27/10/2026).
Kegiatan ini mendapat apresiasi dari Pemerintah Kota (Pemkot) Pangkalpinang karena dinilai dapat meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat, terutama pelaku ekonomi kreatif, dalam memanfaatkan teknologi digital.
Wali Kota Pangkalpinang, Prof. Saparudin Masyarif, mengatakan pelatihan tersebut menjadi kesempatan bagi peserta untuk memperluas wawasan sekaligus mengembangkan potensi usaha melalui pemanfaatan platform digital.
“Atas nama Pemerintah Kota Pangkalpinang, kami menyampaikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Kementerian Ekonomi Kreatif melalui Ibu Yuana Rochma Astuti, Direktur Konten Digital di Kementerian Ekraf/Bekraf. Terima kasih sudah menyelenggarakan kegiatan ini untuk masyarakat Bangka Belitung, khususnya Kota Pangkalpinang,” ujar Saparudin saat memberikan sambutan.
Ia berharap materi yang disampaikan para narasumber tidak hanya menambah pengetahuan peserta, tetapi juga diterapkan dalam aktivitas sehari-hari, termasuk untuk mengembangkan usaha dan menciptakan peluang baru.
“Tentu saja tidak terbatas pada pengetahuan dan pemahaman. Semua yang kita peroleh nantinya harus dimaknai dan diimplementasikan dalam kegiatan sehari-hari,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Saparudin turut menceritakan pengalamannya mengenal dunia teknologi informasi sejak 1991. Ia membandingkan perkembangan teknologi komputer pada masa awal dengan kemajuan saat ini, ketika kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin banyak dimanfaatkan, termasuk oleh generasi Z dan generasi Alpha.
Ia mengenang, pada awal keterlibatannya di dunia komputer, perangkat yang digunakan masih berukuran besar. Proses pembuatan program juga membutuhkan waktu panjang, sementara pencarian kesalahan atau error harus dilakukan secara teliti.
“Saya berkecimpung di dunia komputer itu sejak tahun 1991. Kita masih menggunakan komputer yang namanya Weng, CPU-nya besar dan disk drive-nya masih pakai pita. Kalau kita bikin program pakai Basic, nge-trace program itu harus diprint panjang sampai sekian ratus meter dan memeriksa kesalahannya baris per baris di kertas,” kenangnya.
Menurut Saparudin, perkembangan teknologi berlangsung sangat cepat, mulai dari penggunaan komputer pribadi atau personal computer (PC), berlanjut ke perangkat bergerak atau mobile computing, hingga teknologi kecerdasan buatan.
Perubahan tersebut membuat proses pengembangan aplikasi menjadi lebih praktis dibandingkan sebelumnya. Jika dahulu pembuatan aplikasi bisa memakan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun, kini berbagai kebutuhan dapat diselesaikan dengan lebih efisien.
“Dulu ketika kami membuat aplikasi itu harus berbulan-bulan lamanya, bahkan kadang bertahun-tahun. Menemukan error saja bisa berminggu-minggu tanpa solusi. Hari ini, orang membangun aplikasi itu seperti membangun rumah susun, pintunya tinggal beli lalu pasang, jendelanya tinggal ambil lalu pasang. Begitu mudahnya,” jelasnya.
Kemudahan tersebut, lanjut dia, turut menekan biaya pengembangan teknologi. Ia mencontohkan pembuatan situs web yang pada masa lalu dapat menghabiskan biaya hingga Rp200 juta, sedangkan saat ini bisa dilakukan dengan anggaran jauh lebih kecil, bahkan memanfaatkan platform gratis.
“Hari ini website itu cuma perlu duit Rp2 juta sudah bisa bikin website sendiri. Bisa juga dengan mudah bikin akun di TikTok, bisa bikin akun di Tokopedia. Bapak-Ibu bisa punya akun dan punya lapak di Tokopedia. Ini adalah perkembangan teknologi,” imbuhnya.
Saparudin juga mencontohkan pemanfaatan teknologi di lingkungan Pemkot Pangkalpinang melalui peluncuran aplikasi terpadu atau Super App resmi milik pemerintah kota.
Ia menyebutkan, aplikasi tersebut dikembangkan oleh tim internal Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dalam waktu tiga bulan tanpa melibatkan pihak ketiga. Aplikasi itu telah tersedia di App Store dan Play Store sehingga dapat dimanfaatkan oleh pemerintah maupun masyarakat.
“Super App itu sudah kita launching satu bulan yang lalu. Bikinnya cuma tiga bulan dan yang bikin anak-anak di Kominfo, tidak ada yang pihak ketiga. Sekarang sudah terdaftar di App Store maupun Play Store dan sudah bisa dimanfaatkan oleh pemerintah maupun warga Kota Pangkalpinang,” tuturnya.
Lebih jauh, Saparudin mengingatkan bahwa kemajuan teknologi harus diiringi kreativitas dan inovasi. Menurutnya, penguasaan teknologi tidak cukup hanya dengan memahami cara menggunakan perangkat atau platform digital, tetapi juga membutuhkan kemampuan menciptakan sesuatu yang memiliki nilai tambah.
Ia bahkan menggunakan istilah lokal Bangka untuk menggambarkan dua hal yang dianggap penting dalam menghadapi perkembangan teknologi.
“Mantranya teknologi itu, kalau kata orang Bangka ‘jampiannya’, hanya dua yaitu kreasi dan inovasi. Kalau mau berkreasi dan berinovasi, maka itulah yang bisa memegang dan menguasai teknologi,” kata Saparudin.
Ia menambahkan, kreativitas dapat dimulai dari hal sederhana di lingkungan sekitar. Salah satunya dengan melakukan perubahan tata letak ruang pertemuan agar interaksi antara pembicara dan peserta berlangsung lebih dekat dan menarik.
Karena itu, ia mengajak para pelaku ekonomi kreatif untuk terus mengembangkan gagasan baru dan berani melakukan inovasi agar mampu memanfaatkan peluang di tengah perkembangan teknologi digital.
“Hari-hari harus berkreasi, hari-hari harus punya inovasi. Teman-teman yang di ekonomi kreatif, kuncinya yaitu berkreasi dan berinovasi,” pungkasnya. **


















