PANGKALPINANG, OkeyBung.com – PT TIMAH (Persero) Tbk telah menenggelamkan 7.680 unit terumbu buatan (artificial reef) sepanjang 2016–2024 dan kembali menambah 1.920 unit pada 2025 untuk mendukung pemulihan ekosistem laut di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Selain itu, perusahaan juga menenggelamkan 3.105 unit fish shelter dan melaksanakan 1.475 unit transplantasi karang selama periode 2016–2024.
Berbagai program tersebut dilakukan untuk memulihkan habitat biota laut, menjaga keanekaragaman hayati, serta mendukung keberlanjutan sumber daya perikanan.
Upaya pemulihan ekosistem pesisir juga dilakukan melalui pemasangan atraktor cumi-cumi dan program penebaran kembali (restocking). Langkah ini diharapkan dapat menjaga populasi biota laut sekaligus mendukung mata pencaharian nelayan.
Pada 6 Oktober 2026, PT TIMAH bersama Dewan Pimpinan Cabang Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (DPC HNSI) Kabupaten Bangka menenggelamkan 81 unit atraktor cumi di perairan Pantai Tambak Udang, Kabupaten Bangka.
Program tersebut melibatkan pemerintah daerah dan nelayan setempat. Atraktor cumi diharapkan menjadi tempat berlindung dan pemijahan, sehingga dapat membantu menjaga keberlanjutan populasi cumi-cumi serta meningkatkan peluang hasil tangkapan nelayan.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bangka, Boy Yandra, mengapresiasi kolaborasi PT TIMAH dan HNSI dalam mendukung pemulihan habitat cumi-cumi. Ia menyebutkan, penempatan atraktor di Pantai Tambak Udang telah melalui kajian ilmiah bersama Universitas Bangka Belitung (UBB).
“Kami mengapresiasi kerja sama HNSI Bangka dan PT TIMAH, karena ini salah satu upaya daripada HNSI bagaimana nanti bisa memberikan kehidupan yang baik kepada habitat cumi dengan adanya pemasangan atraktor cumi ya,” ujar Boy Yandra.
Upaya serupa dilakukan PT TIMAH di Kabupaten Belitung dengan menenggelamkan 30 unit atraktor cumi di perairan Sungai Padang, Kecamatan Sijuk. Kegiatan tersebut dilaksanakan melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) untuk Kelompok Usaha Bersama (KUB) Bekayo, Desa Sungai Padang.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Belitung, Ade Winarko, menyampaikan apresiasi atas dukungan perusahaan dalam menjaga sumber daya kelautan. Menurutnya, atraktor cumi berfungsi sebagai media pemijahan dan tempat cumi-cumi menempelkan telur.
“Kami mengucapkan apresiasi dan terima kasih atas sinergi dan kepedulian PT TIMAH dalam menjaga kelestarian sumber daya kelautan dengan menenggelamkan atraktor cumi di perairan Sungai Padang,” kata Ade Winarko, dikutip dari Antara.
Cumi-cumi menjadi salah satu komoditas perikanan bernilai ekonomi penting bagi masyarakat pesisir Belitung. Data Dinas Perikanan Kabupaten Belitung mencatat produksi tangkapan cumi-cumi pada 2025 mencapai 3.314 ton.
Karena itu, pemeliharaan habitat dan keberlanjutan populasi cumi-cumi dinilai penting agar potensi perikanan tetap terjaga dan memberikan manfaat bagi nelayan.
Selain pemasangan atraktor, PT TIMAH juga menjalankan program restocking cumi-cumi. Pada 15 Juni 2026, perusahaan melalui Division Area Bangka Utara bersama Yayasan Sayang Babel Kite dan nelayan melaksanakan kegiatan tersebut di perairan Pantai Tuing, Desa Mapur, Kabupaten Bangka. Dalam kegiatan itu, turut ditenggelamkan 10 unit atraktor cumi.
Ketua Yayasan Sayang Babel Kite, Indra Ambalika, menjelaskan restocking dilakukan untuk meningkatkan peluang hidup cumi-cumi sejak fase awal sebelum dilepas kembali ke habitat alaminya.
Menurutnya, telur dan anakan cumi-cumi di alam memiliki risiko dimangsa predator, termasuk ikan. Penetasan dalam wadah terkontrol diharapkan dapat meningkatkan peluang hidup sebelum cumi-cumi dilepaskan ke laut.
“Restocking dilakukan untuk meningkatkan keberhasilan hidup cumi-cumi yang ditetaskan. Di alam, telur maupun anakan cumi memiliki risiko tinggi dimangsa predator seperti ikan. Melalui proses penetasan di wadah terkontrol, peluang hidupnya menjadi lebih besar sebelum dilepas kembali ke laut,” katanya.
Indra menambahkan, cumi-cumi merupakan salah satu hasil tangkapan utama nelayan di Pulau Bangka yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Oleh sebab itu, upaya menjaga populasinya perlu dilakukan secara berkelanjutan untuk mendukung kesejahteraan masyarakat pesisir. **


















