banner 970x250
Bangka BelitungDaerah

Tambang Kampak Tak Hanya Soal Lingkungan, Warga Soroti Perputaran Ekonomi

×

Tambang Kampak Tak Hanya Soal Lingkungan, Warga Soroti Perputaran Ekonomi

Sebarkan artikel ini

JEBUS, OkeyBung.com – Polemik aktivitas pertambangan di Dusun Kampak, Desa Jebus, Kecamatan Jebus, Kabupaten Bangka Barat, tidak hanya berkaitan dengan persoalan lingkungan dan legalitas.

Warga juga meminta agar dampak ekonomi terhadap masyarakat menjadi pertimbangan dalam setiap kebijakan terkait aktivitas tambang di wilayah tersebut.

Bagi sebagian warga Kampak, aktivitas pertambangan ikut menggerakkan perekonomian. Selain pekerja tambang, keberadaan aktivitas tersebut turut dirasakan pemilik warung, pedagang, tukang ojek dan pelaku usaha kecil lainnya.

Meli, warga Dusun Kampak, mengatakan ramainya aktivitas masyarakat turut berdampak terhadap pendapatan warung.

“Kalau aktivitas masyarakat ramai, warung juga ikut ramai. Ada yang membeli makanan, kopi dan kebutuhan lainnya. Bagi kami, perputaran ekonomi seperti itu sangat membantu,” ujar Meli.

Ia berharap jika pemerintah mengambil kebijakan terhadap aktivitas pertambangan, nasib ekonomi masyarakat juga diperhatikan.

“Kalau memang ada aturan yang harus dipatuhi, kami tentu berharap semuanya jelas. Tetapi kalau aktivitas dihentikan, masyarakat juga perlu diberikan solusi agar tetap bisa mendapatkan penghasilan,” katanya.

Hal senada disampaikan Rudi, warga sekaligus tokoh masyarakat Dusun Kampak. Menurutnya, dampak ekonomi dari aktivitas tambang tidak hanya dirasakan para pekerja.

“Bukan hanya pekerja tambang yang mendapatkan penghasilan. Ada warung, tukang ojek dan usaha kecil lainnya yang ikut merasakan perputaran ekonomi,” ujarnya.

Rudi juga menyoroti kebutuhan pembangunan di lingkungan masyarakat, termasuk fasilitas ibadah.

Menurutnya, masyarakat berharap pembangunan kampung tetap berjalan dan kebutuhan fasilitas umum mendapat perhatian.

“Kami ingin pembangunan kampung berjalan dan masyarakat juga bisa tetap bekerja,” katanya.

Sementara Haji Amat, tokoh masyarakat Kampak, mengatakan salah satu mushola di wilayah tersebut membutuhkan perhatian karena kondisinya sudah memprihatinkan.

“Kami sangat berharap mushola di Kampak bisa dipugar. Kondisinya sudah sangat memprihatinkan dan tempat itu digunakan masyarakat untuk beribadah,” ujarnya.

Dugaan Oknum Wartawan

Di tengah polemik tersebut, muncul pula dugaan mengenai keterlibatan oknum yang disebut berprofesi sebagai wartawan.

Dugaan itu disampaikan seorang narasumber berinisial IM. Ia menduga ada oknum wartawan yang ikut mendorong agar aktivitas tambang rakyat di Kampak dihentikan.

IM juga mempertanyakan kemungkinan adanya kepentingan tertentu di balik penghentian aktivitas tambang rakyat.

“Yang menjadi pertanyaan warga, kalau tambang rakyat ini ditutup, siapa yang kemudian mengambil timahnya? Jangan sampai masyarakat diminta berhenti, tetapi setelah itu ada pihak lain yang justru masuk dan mengambil keuntungan,” ujar IM.

Namun, dugaan tersebut belum dapat dinyatakan sebagai fakta. Informasi itu masih membutuhkan konfirmasi dan bukti yang dapat diverifikasi.

IM juga mempertanyakan apakah persoalan tambang di Kampak benar-benar hanya berkaitan dengan lingkungan.

“Kalau memang persoalannya lingkungan, kami ingin semuanya dibuka secara terang. Tetapi kalau ada kepentingan lain, masyarakat juga berhak mengetahuinya,” katanya.

Redaksi tidak menyimpulkan adanya keterlibatan atau kepentingan oknum wartawan sebagaimana dugaan tersebut. Pihak yang merasa disebut atau berkaitan dengan informasi itu diberikan ruang untuk memberikan klarifikasi dan hak jawab.

Warga Butuh Kepastian

Warga Kampak menyadari persoalan lingkungan dan legalitas pertambangan tidak dapat diabaikan.

Jika ditemukan pelanggaran, penindakan tentu harus dilakukan sesuai aturan. Namun, warga berharap kebijakan tersebut juga mempertimbangkan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.

Pertanyaan warga sederhana. Jika tambang dihentikan, dari mana masyarakat mendapatkan penghasilan?

Warung, pedagang, tukang ojek dan usaha kecil lainnya juga ikut terdampak apabila perputaran ekonomi berhenti.

Karena itu, warga berharap pemerintah tidak hanya memberikan kepastian hukum, tetapi juga solusi ekonomi yang nyata.

Persoalan Kampak pada akhirnya bukan hanya soal tambang dan lingkungan. Ada kehidupan masyarakat yang ikut bergantung pada perputaran ekonomi di wilayah tersebut.

Warga tidak meminta aturan diabaikan. Mereka hanya berharap penegakan aturan tetap berjalan tanpa mengabaikan nasib ekonomi masyarakat. **

 

banner 970x250 banner 970x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *