banner 970x250
Bangka BelitungDaerahPT Timah

MUI Babel Ingatkan Warga soal Polemik Timah: Jangan Mudah Terprovokasi

×

MUI Babel Ingatkan Warga soal Polemik Timah: Jangan Mudah Terprovokasi

Sebarkan artikel ini

PANGKALPINANG, OkeyBung.com — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) mengajak masyarakat tetap tenang dan menjaga kondusivitas di tengah dinamika pertambangan timah yang berkembang saat ini.

Ketua MUI Babel, Profesor Hatamar Rasyid, meminta berbagai persoalan terkait pengelolaan sumber daya alam, khususnya timah, tidak diselesaikan dengan cara yang berpotensi memicu konflik.

Menurut Hatamar, dialog antara masyarakat, PT TIMAH dan pemerintah menjadi langkah penting untuk mencari jalan keluar dari berbagai persoalan yang muncul.

“Timah merupakan kekayaan alam yang perlu dikelola dengan baik karena menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat Bangka Belitung. Di sisi lain, pengelolaannya juga harus memperhatikan kepentingan negara dan kelestarian lingkungan,” katanya.

Ia mengimbau masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh kepentingan tertentu. Persoalan yang berkaitan dengan aktivitas pertambangan, kata Hatamar, sebaiknya dibicarakan secara terbuka melalui dialog dan musyawarah.

“Kami dari MUI Provinsi Bangka Belitung mengajak masyarakat untuk berpikir tenang dan tidak terprovokasi dengan kepentingan-kepentingan yang ada. Segalanya itu didialogkan dengan PT TIMAH. Kita budayakan dialog dan musyawarah untuk kemaslahatan bersama,” pesannya.

Hatamar menilai komunikasi antara masyarakat, PT TIMAH, pemerintah daerah hingga pemerintah pusat perlu terus dibangun. Hal tersebut penting agar masyarakat memperoleh penjelasan yang utuh mengenai kebijakan dan pengelolaan sumber daya timah.

“Jadi sebaiknya memang harus ada pembahasan antara PT TIMAH dan masyarakat. Tentu ada pembahasan yang dibawa dari pusat dan PT TIMAH itu sendiri, sehingga masyarakat dapat menerima penjelasan yang lebih jelas,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan agar pengelolaan pertambangan tidak hanya berorientasi pada pemanfaatan sumber daya alam. Aspek lingkungan, menurutnya, harus menjadi perhatian agar aktivitas pertambangan tidak menimbulkan kerusakan ekosistem.

“Perlu duduk bersama dan membudayakan dialog serta musyawarah untuk kemaslahatan bersama, dengan tetap menjaga lingkungan,” tutupnya. (*)

 

banner 970x250 banner 970x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *