PANGKALPINANG, OkeyBung.com — Tingkat inflasi di Kota Pangkalpinang mengalami penurunan signifikan dari sekitar 2,5 persen pada 2025 menjadi hanya 0,76 persen di 2026. Capaian ini menempatkan Pangkalpinang sebagai kota dengan inflasi terendah kedua dari 96 kota di Indonesia.
Menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, Pemerintah Kota Pangkalpinang mulai memperkuat langkah pengendalian harga bahan pokok agar tidak terjadi lonjakan. Upaya tersebut dibahas dalam High Level Meeting Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) di Smart Room Center (SRC) Kantor Wali Kota Pangkalpinang, Rabu (20/5/2026).
Wakil Wali Kota Pangkalpinang, Dessy Ayutrisna, mengatakan pemerintah daerah resmi meluncurkan inovasi pengendalian inflasi bertajuk Gerakan Kereta Surong Ketapang sebagai bagian dari penguatan ketahanan pangan.
“Hari ini kita launching gerakan pengendali inflasi, yaitu Gerakan Kereta Surong Ketapang,” ujarnya.
Ia menegaskan, TPID akan turun langsung ke lapangan untuk memantau kondisi harga, terutama menjelang hari besar keagamaan.
“TPID Kota Pangkalpinang bersama-sama akan turun ke lapangan memantau harga menjelang Iduladha,” katanya.
Berdasarkan pemantauan terakhir, sejumlah komoditas pangan mulai mengalami kenaikan, seperti cabai dan daging. Pemerintah daerah pun merespons dengan memperkuat pengawasan dan intervensi pasar sesuai arahan pemerintah pusat.
“Ada beberapa komoditas yang naik seperti cabai dan daging. Kita juga akan memantau beras dan minyak goreng. Ini juga merupakan arahan dari Mendagri dalam berbagai rakor,” jelasnya.
Untuk mengendalikan inflasi secara berkelanjutan, Pemkot Pangkalpinang menerapkan strategi 4K yang tertuang dalam Peraturan Wali Kota, meliputi keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
“Program 4K ini menyasar komoditas pangan pokok, mulai dari operasi pasar murah hingga penguatan distribusi dan komunikasi data,” tambahnya.
Ia menyebut, berbagai langkah tersebut berkontribusi terhadap capaian positif daerah dalam pengendalian inflasi secara nasional.
“Alhamdulillah kita berada di peringkat kedua dari 96 kota dengan inflasi terendah, yaitu 0,76 persen. Ini turun dari sekitar 2,5 persen di tahun sebelumnya,” ungkapnya.
Menurutnya, capaian ini tidak lepas dari sinergi TPID dengan berbagai instansi terkait dalam menjaga stabilitas harga.
Sementara itu, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setdako Pangkalpinang, Juhaini, memperkenalkan konsep kalender inflasi prediktif yang mengubah pendekatan pengendalian harga dari reaktif menjadi berbasis prediksi.
“Kalender inflasi prediktif ini mengubah pola kerja dari insidentil menjadi lebih terukur dan berbasis prediksi,” ujarnya.
Melalui sistem ini, pemerintah dapat memetakan potensi kenaikan harga komoditas sejak dini melalui dashboard TPID dan data BPS yang dapat diakses publik.
“Beberapa komoditas sudah bisa diprediksi akan mengalami kenaikan hingga akhir 2026 dan itu bisa dipantau melalui dashboard resmi,” pungkasnya.












